Wednesday, June 14, 2017

MAKALAH : Ilmu Rijal Al-Hadits | Download File Document Fuill Foot Note lengkap dan Daftar Pustaka

Download Langsung Makalah Doc.
atau


Pelajari ilmu Agama : طَلَبُ الْعَلْمِ



MAKALAH
ILMU RIJALUL HADIST
Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah
Ulumul hadits
Dosen Pengampu: Muhammad Zainul Abidin M.A

Oleh :
Kelompok 2
1.     Anton Abdul Basir
2.     Dede Syifa
3.     Muhamad Ilyas
4.      Iman Warisman 

PRODI EKONOMI SYARI’AH
Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI)
TASIKMALAYA
2016

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur kami panjatkan kehadiratAllah S.W.T, karena dengan rahmat dan karunia-Nya,kami kelompok 2 dapat menyelesaikan makalah yang berjudul ILMU RIJALUL HADITS sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah ULUMUL HADITS. Dalam menyelesaikan makalah ini kami dibantu oleh beberapa pihak. Untuk itu kami mengucapkan terima kasih kepada :
1.         H. Muhammad Zainul Abidin, M.A., selaku dosen mata kuliah Ulumul Hadits.
2.         Seluruh teman-teman Ekonomi Syari’ah kususnya kelas B yang telah memberi semangat pada kami.
Kami menyadari, makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.Untuk itu,kepada para pembaca, kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun, demi kesempurnaan penulisan berikutnya.
Mudah mudahan makalah ini bermanfaat bagi para pembaca untuk menambah wawasan mengenai Sejarah Kodifikasi Hadits.

  




Tasikmalaya, 24 November 2016



           Penyusun


DAFTAR ISI



KATA PENGANTAR.. ii
DAFTAR ISI. iii
BAB I. 4
PENDAHULUAN.. 4
A.     Latar Belakang. 4
B.     Rumusan Masalah. 4
C.     Tujuan Penulisan. 4
BAB II. 5
PEMBAHASAN.. 5
A.     PENGERTIAN ILMU RIJAL AL-HADIS. 5
B.     KEGUNAAN ILMU RIJAL AL-HADIS. 6
C.     CABANG-CABANG ILMU RIJAL AL-HADIS. 9
BAB III. 15
PENUTUP. 15
A.     KESIMPULAN.. 15
B.     SARAN.. 15
DAFTAR PUSTAKA.. 16





BAB I

PENDAHULUAN

 

A.       Latar Belakang

Hadis merupakan satu diantara dua pedoman hidup orang islam disamping al-Quran. Definisi hadis sendiri adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan maupun sifat-sifatnya.
Berbicara mengenai hadis, tentu tidak bisa terlepas dari kata sanad dan matan. Mengingat peran penting hadis bagi umat islam, maka hukum mempelajari ilmu yang berkaitan dengan hadis menjadi penting juga. Matan yaitu penghujung sanad, yakni sabda Nabi yang disebut sesudah sanad[1]. Sedangka sanad yaitu silsilah (rentetan) rawi-rawi yang enukilkan matan dari asalnya yang pertama, atau jalan yang dapat menghubugkan matan hadis kepada Nabi Muhammad SAW[2].
Dengan mempelajari ilmu-ilmu yang berkaitan dengan sanad dan matan hadis bermanfaat agar terhindar dari adanya penukilan yang salah dari sumbernya, yakni Nabi Muhammad SAW.

B.                 Rumusan Masalah

1.      Apa pengertian Ilmu Rijal al-Hadis?
2.      Apa kegunan Ilmu Rijal al-Hadis?
3.      Apa cabang-cabang Ilmu Rijal al-Hadis?

C.                 Tujuan Penulisan

1.      Untuk mengetahui apa pengertian dari Ilmu Rijal al-Hadis
2.      Untuk mengetahui apa keguanaan Ilmu Rijal al-Hadis
3.      Untuk mengetahui apa cabang-cabang Ilmu Rijal al-Hadis





BAB II

PEMBAHASAN

Ada banyak istilah yang menyebut nama-nama hadis sesuai dengan fungsinya dalam menetapkan syari’at Islam. Persyaratan itu ada yang berkaitan dengan persambungan sanad, kualitas para periwayat yang dilalui hadis dan ada pula yang berkaitan dengan kandungan hadis itu senriri.
Berbicara mengenai Hadis dalam arti “segala sabda, perbuatan, taqrir, dan hal ihwal yang disandarkan kepada Nabi Muhammad saw.” tidak terlepas dari pembicaraan mengenai sanad dan matan hadis itu sendiri. Ilmu yang berkaitan dengan sanad akan mengkaji tentang apakah hadis itu bersambung sanadnya tau tidak, dan apakah para periwayat hadis yang dicantumkan dalam sanad hadis itu orang-orang yang terpercaya atau tidak. Sedang ilmu yang berkaitan tentang matan membahas tentang informasi yang terkandung didalamnya berasal dari Nabi atau tidak. Misalnya hadis tersebut bertentangan dengan dali lain atau tidak[3].
Salah satu disiplin ilmu yang berpangkal pada sanad adalah Ilmu rijal al-hadis, dan berikut penjelasannya. 

A.                 PENGERTIAN ILMU RIJAL AL-HADIS

Menurut bahasa, kata rijal berarti para kaum pria. Sedang Rijal al-Hadis berarti orang-orang disekitar hadis atau orang-orang yang meriwayatkan hadis serta berkecimpung dengan hadis Nabi. Secara terminologi ilmu ini didefinisikan dengan:
“ilmu yang membahas tentang keadaan para periwayat hadis baik dari kalangan sahabat, sahih, maupun generasi- generasi berikutnya.”[4].

Yaitu ilmu yang mempelajari tentang tokoh atau orang yang membawa hadis, semenjak dari nabi sampai dengan periwayat terakhir (penulis kitab hadis). Hal yang terpenting di dalam Ilmu rijal al-hadis adalah sejarah kehidupan para tokoh tersebut, meliputi masa kelahiran dan wafat mereka, negeri asal, negeri mana saja tokoh-tokoh itu mengembara dan dalam jangka berapa lama, kepada siapa saja mereka memperoleh hadis dan kepada siapa saja mereka menyampaikan hadis[5].
Ilmu rijal al-hadis membahas keadaan para periwayat hadis semenjak para sahabat, tabi’in, tabi’ al-tabi’in, dan generasi-generasi berikutnya yang terlibat dalam periwayatan hadis. Didalamnya diterangka sejarah ringkas tentang riwayat hidup para periwayat, guru-guru dan murid-murid mereka, tahun lahir dan wafat, dan keadaan-keadaan serta sifat-sifat mereka. Jelasnya, ilmu ini membahas tentang biografi paa periwayat, nama-nama, kunyah, lagab, dan sebagainya. Didalamnya juga dicantumkan para periwayat yang dicantumkan laqab-nya saja tetapi tidak dikenal nama aslinya dan para periwayat yang memiliki dua laqab. 

B.                 KEGUNAAN ILMU RIJAL AL-HADIS

Ilmu ini membahas dan menerangkan hal ihwal keadaan dan sejarah singkat kehidupan para rawi yang menerima hadis dari Rasulullah yaitu sahabat para rawi yang menerima hadis dari sahabat yakni tabi’in, para rawi yang meneima hadis dari tabi’in yakni tabi’it tabi’in dan seterusnya. Disamping itu ilmu ini juga membahas tentang muhadlramin, mawaly dan hal-hal yang berpautan dengannya[6].
Dari definisi yang telah dikemukakan, dapat diketahui bahwa ilmu Rijal al-Hadisberkaitan dengan hal ihwal para periwayat hadis. Karena itu, ilmu ini mengambil porsi tertentu dalam bahasan ilmu hadis. Ilmu ini sangat diperlukan dalam penelitian sanad Hadis.
Dengan ilmu ini penelitian sanad Hadis dapat dilakukan, karena ilmu ini merupakan data yang lengkap mengenai para periwayat Hadis, baik biografi mereka,maupun kualitas pribadi mereka. Kiranya sulit dibayangkan, kalau seseorang sekarang ini ingin meneliti sanad Hadis, tanpa menggunakan ilmu ini, mengingat bahwa para periwayat itu sendiri sudah ribuan tahun meninggal dunia.
Tujuan ilmu ini adalah untuk mengetahui bersambung (muttashil) atau tidaknya sanad suatu hadis. Maksud persambungan sanad adalah pertemuan langsung apakah perawi berita itu bertemu langsung dengan gurunya atau pembawa berita ataukah tidak atau hanya pengakuan saja. Semua itu dapat dideteksi melalui ilmu ini. Muttashilnya sanad ini nanti dijadikan salah satu syarat kesahihan suatu hadis dari segi sanad.
Kemunculan Ilmu Rijal al-Hadis merupakan buah dari berkembang dan menyebarnya penggunaan isnad serta banyaknya pertanyaan tentangnya. Dan setiap maju zaman, maka makin banyak dan panjang jumlah perawi dalam sanad. Maka perlu untuk menjelaskan keadaan perawi tersebut dan memisah-misahkannya, apalagi dengan munculnya bid’ah-bid’ah dan hawa nafsu serta banyaknya pelaku dan pengusungnya. Karena itu tumbuhlah ilmu Rijaal yang merupakan suatu keistimewaan ummat ini di hadapan ummat-ummat lainnya.
Akan tetapi kitab-kitab tentang Ilmu Rijal al-Hadis nanti muncul setelah pertengahan abad-2. Dan karya tulis ulama yang pertama dalam hal ini adalah kitab At Tarikh yang ditulis oleh Al Laits bin Sa’ad (wafat 175 H) dan kitab Tarikh yang disusun oleh Imam Abdullah bin Mubarak (wafat 181 H). Imam adz Dzahabi menyebutkan bahwa Al Walid bin Muslim (wafat 195 H) juga memiliki sebuah kitab Tarikh Ar Rijaal, lalu secara berturut-turut muncul karya-karya tulis dalam ilmu ini, dimana sebelum masa kodifikasi ini pembahasan tentang perawi hadis dan penjelasan hal ihwal mereka hanya bersifat musyafahah(lisan), ditransfer sedemikian rupa oleh para ulama dari masa ke masa.
Ilmu ini juga membahas periwayatan yang tsiqah dan dha’if serta asal usul tentang periwayatan hadis. Ilmu ini menjadi sangat penting dalam ilmu hadis karena ilmu ini berkaitan dengan sanad dan matan sdang orang-orang yang terhubung dengan mata rantai sanad adalah para periwayat hadis dan mereka itu adalah objek dari Ilmu rijal al-hadis[7].
Jadi dapat diketahui bahwa Ilmu Rijal al-Hadis berguna untuk mengetahui tentang para perawi yang ada dalam tingkatan sanad hadis. Dengan mengatahui para perawi itu akan dapat mencegah terjadinya pemalsuan hadis, penambahan matan hadis, juga dapat mengetahui tingkatan keshahihan tiap-tiap hadis yang ditemui.
Ilmu Rijal al-Hadis ini lahir bersama-sama dengan periwayatan hadis dalam Islam  dan mengambil porsi khusus untuk mempelajari persoalan-persoalan di sekitar sanad. Ulama memberikan perhatian yang sangat serius terhadapnya agar mereka dapat mengetahui tokoh-tokoh yang ada dalam sanad. Ulama akan menanyakan umur para perawi, tempat mereka, sejarah mendengar ( belajar ) mereka dari para guru,disamping bertanya tentang para perawi itu sendiri. Hal itu mereka lakukan demi mengetahui keshahihan sima’ yang dikatakan oleh perawi dan demi mengetahui sanad-sanad yang muttashil dari yang terputus, yang mursal, dari yang marfu’ dan lain-lain.
Banyak hal yang menyebabkan sejarah para periwayat hadis menjadi objek kajian dalam Ilmu Rijal Al-Hadis, diantaranya adalah :
1.         Tidak seluruh hadis tertulis pada zaman Nabi
Hadis yang ada ditulis pada masa Nabi sangat minim sekali, padahal yang menerima hadis sangat banyak orangnya. Hal ini menyebabkan banyaknya terjadi kekeliruan dalam penyampaian hadis selanjutnya. Hadis yang disampaikan itu kadang dalam penyampaiannya mengalami perubahan-perubahan redaksi sehingga menyebabkan hadis tersebut menjadi rendah tingkatannya. Oleh karena itu dalam masalah ini diperlukan pengetahuan tentang para perawi yang ada dalam tingkatan sanad untuk menghindari kesalahan-kesalahan tersebut.

2.         Munculnya pemalsuan hadis
Hadis Nabi yang belum terhimpunn dalam suatu kitab dan kedudukan hadis yang sangat penting dalam sumber keajaran Islam, telah dimanfaatkan secara tidak bertanggung jawab oleh orang-orang tertentu. Mereka membuat hadis palsu berupa pernyataan – pernyataan yang mereka katakana berasal dari Nabi, padahal Nabi sendiri tidak pernah menyatakan demikian. Untuk itu Ilmu Rijal al-Hadis banyak membicarakan biografi para periwayat hadis dan hubungan periwayat satu dengan periwayat lainnya dalam periwayatan hadis agar menghindari terjadinya pemalsuan hadis.
3.         Proses penghimpunan hadis ( Tadwin )
Karena takut akan kehilangan hadis, maka pada masa khalifah diadakan pengumpulan hadis dari seluruh daerah. Dalam melakukan penghimpunan hadis ini, diperlukan pengetahuan tentang sejarah hidup para perawi sehingga dapat diketahui kualitas hadis yang di himpun tersebut agar tidak terjadi ketercampuran antara hadis yang lebih baik kualitasnya dari segi sanad dengan hadis maudu’ maupun hadis dhaif dalam penghimpunan itu.
Inilah beberapa factor yang menyebabkan di dalam Ilmu Rijal al-Hadis, sejarah para periwayat menjadi objek kajian. Di sebabkan betapa pentingnya pengetahuan tentang periwayat dalam hal-hal yang telah disebutkan diatas.

C.                 CABANG-CABANG ILMU RIJAL AL-HADIS

Ilmu rijal al-hadis terdiri atas dua pokok, yaitu:
1.         Ilmu Tarikh ar-Ruwah
Yaitu ilmu yang mempelajari para periwayat hadis dari segi yang berkaitan dengan periwayatan hadis. Secara bahasa kata Tarikh al-Ruwah berarti sejarah para periwaatan hadis. Menutur pengertian etimologis ini, Ilmu Tarikh ar-Ruwah adalah ilmu yang membahas segala hal yang terkait dengan para periwayat hadis. Dalam pengertian terminologis, ilmu ini difokuskan pada pengetahuan tentang para periwayatan hadis dari segi keberadaan mereka sebagai periwayat hadis bukan dari segi-segi lain dalam kehidupan mereka.

2.         Ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil
Yaitu ilmu yang menerangkan tentang cacat dan keadilan para periwayat hadis menggunakan redaksi khusus dan membahas pula tingatan-tingkatan redaksi itu. Ilmu ini pada dasarnya merupakan bagian dari ilmu Rijal al-Hadis, tetapi karena ilmu ini membahas hal penting dari kepribadian priwayat hadis maka dipandang sebagi ilmu yang berdiri sendiri.
Ilmu al-Jarh wa at-Ta’dilini muncul bersamaan dengan munculnya periwayatan hadis, karena untuk mengetahui gadis sahih harus didahului dengan mengetahui periwayatnya, mengetahui pendapat kritikus periwayat tentang jujur tidaknya periwayat sehingga memungkinkan dapat membedakan hadis yang dapat diterima dan ditolak [8].
Dari kedua pokok ilmu rijal al-Hadits ini, muncul pula cabang-cabang yang mempunyai ciri pembahasan tersendiri. Cabang-cabang itu antara lain adalah:
1)      Ilmu Tabaqat ar-Ruwah, yaitu ilmu yang mengelompokkan para periwayat ke dalam suatu angkatan atau generasi tertentu.
2)      Ilmu al-Mu’talif wa al-Mukhtalif, yaitu ilmu yang membahas tentang perserupaan bentuk tulisan dari nama asli, nama samaran, dan nama keturunan para periwayat, namun bunyi bacaannya berlainan.
3)      lmu al-Muttafiq wa al-Muftariq, yaitu ilmu yang membahas tentang perserupaan bentuk tulisan dan bunyi bacaan, namun berlainan personalianya,dan
4)      Ilmu al-Mubhamat, yaitu ilmu yang membahas nama-nama periwayat yang tidak disebut dengan jelas.

a.         Ta’rif Ilmu Rijalul Hadit’s

Ilmu rijalul hadits, ialah: “Sejarah perawi-perawi hadits madzhab-madzhab yang di pegang mereka yang dengan karena madzhab itu, dapat di terima atau di tolak riwayat mereka, dan pegangan-pegangan mereka, serta cara mereka menerima hadits”.
 

Dengan ibarat lain boleh kita katakan: “Suatu yang di dalam ilmu itu, dibahas tentang keadaan-keadaan perawi-perawi, perjalanan hidup mereka, baik mereka dari golongan sahabat, golongan tabi’ien dan tabi’ien-tabi’ien”. [9]
            Pada ta’rif dan sejarah Ilmu Rijalul Hadits, Ialah :
 

Ilmu yang membahaskan para perawi hadits, baik dari sahabat, dari tabi’in, maupun dari perangkatan-perangkatan sesudahnya”
Dengan ilmu ini dapatlah kita mengetahui keadaan para perawi yang menerima hadits dari Rasulullah dan keadaan para perawi yang menerima hadits dari sahabat dan seterusnya.
Di dalam ilmu ini di terangkan “Tarikh ringkas” dari riwayat hidup para perawi, madzhab yang di pegangi oleh para perawi dan keadaan-keadaan paraperawi itu menerima hadits.
Sungguh penting sekali ilmu ini dipelajari dengan seksama, karena hadits itu, terdiridari sanad dan matan. Maka mengetahui keadaan paraperawi yang menjadi sanad, teranglah separuh pengetahuan.
Kitab-kitab yang di susun dalam ilmu ini banyak ragamnya. Ada yang hanya menerangkan riwayat-riwayat ringkas dari para sahabat saja. Ada yang menerangkan riwayat umum para perawi-perawi. Ada yang menerangkan perawi-perawi yang dipercayai saja. Ada yang menerangkan riwayat-riwayat para perawi yang lemah-lemah, atau para mudallis, atau para pembuat hadits maudu’.
Dan ada yang menerangkan sebab-sebab dicacat dan sebab-sebab dipandang adil dengan menyebut kata-kata yang dipakai untuk itu serta martabat-martabat perkataan.
Ada yang menerangkan nama-nama yang serupa tulisan, beriman sebutan yang di dalam ilmu hadits tersebut Mu’talif dan mukhtalif. Dan ada yang menerangkan nama-nama perawi yang sama namanya, lain orangnya. Umpamanya, Khalil ibn Ahmad. Nama ini banyak orangnya. Ini dinamai Muttafiq dan Muftariq.
Dan ada yang menerangkan nama-nama yang serupa tulisan dan sebutan, tetapi berlainan keturunan dalam sebutan, sedang dalam tulisan serupa. Seumpama Muhammad ibn ‘Aqil dan Muhammad ibn ‘Uqail. Ini dinamai Musytabah.
            Dan adajuga yang hanya menyebut tanggal wafat.
Di samping ituada pula yang hanya menerangkan nama-nama yang terdapat dalam satu-satu kitab saja, atau beberapa kitab saja.[10]

b.         Thabaqat Rijalul Hadit’s

1.   Ta’rif

Dalam bahasa Thabaqat diartikan : “ kaum yang serupa atau sebaya”. Sedangkan menurut istilah Thabaqat adalah :

 


“ Kaum yang berdekatan atau sebaya dalam usia dan dalam isnad atau dalam isnad saja”.

 

Thabaqat adalah kelompok beberapa orang yang hidup dalam satu generasi atau satu masa dan dalam periwayatan atau isnad yang sama atau sama dalam periwayatan saja. Maksud berdekatan dalam isnad adalah satu perguruan atau satu guru atau diartikan berdekatan dalam berguru. Jadi para gurunya sebagian periwayat juga para gurunya sebagian perawi yang lain.

Para ulama membuat ta’rif Ilmu Thabaqat, ialah :

 


 “ Suatu ilmu pengetahuan yang dalam pokok pembahasanya diarahkan kepada kelompok orang-orang yang berserikat dalam satu alat pengikat yang sama”.

2.   Objek

Ilmu thabaqat itu adalah termaasuk bagian dari ilmu rijalu al hadis, karena obyek yang dijadikan pembahasannya ialah rawi-rawi yang menjadi sanad suatu hadis. Hanya saja masalahnya berbeda. Kalau di dalam ilmu rijal ulumul hadis para rawi dibicarakan secara umum tentang hal ihwal, biografi, cara-cara menerima dan memberikan al hadis dsb, maka dalam ilmu thabaqat menggolongkan para rawi tersebut dalam satu atau beberapa golongan, sesuai dengan alat pengikatnya. Misalnya rawi-rawi yang sebaya umurnya, di golongkan dalam satu thobaqat dan para rawi yang seperguruan, mengikatkan diri dalam satu thabaqat pula.[11]



3.   Urgensi

Faedah mengetahui thabaqat sahabat dan tabi’in ialah untuk mengetahui ke-muttasil-an atau ke-mursal-an suatu hadis. Sebab suatu hadis tidak dapat di tentukan sebgai hadis muttasil atau mursal, kalau tidak diketahui apakah tabi’iy yang meriwayatkan hadis dari sahaby itu hidup segeneraasi atau tidak. kalau seorang tabi’iy tidak pernah hidup segenesrasi dengan sahaby, sudah barang tentu hadis yang diriwayatkannya itu tidak muttasil, atau apa yang di dakwahkan sebagai sabda atau perbuatan nabi itu adalah mursal.[12]

 

4.   Tokoh dan kitab

Kitab-kitab thabaqat ar ruwwah yang ditulis oleh para ulama sebanyak duapuluhan lebih sedikit. Diantara kitab-kitab tersebut yang termashur ialah:

a.   At-thabaqatu Al Kubra karya Muhammad bin sa’ad bin mani’ al-hafidh Katib Al Waqidy (168-230H).

b.   Thabqatu Al Ruwwah karya Al Hafidh Abu ‘Amr Khalifah bin Khayyath Ass-syabani (240H).

c.   Thabaqatu At-Tbi’in Karya Imam Muslim Bin Hajjaj Al-Qusairy (204-261H).

d.   Thabaqatu Al Muhaditsin war Ruwwah Karya Nu’aim Ahmad bin Abdullah bin Ahmad Al-Asybihany (336-430H)

e.   Thabaqatu Al Hufazh oleh Al HAFID Syamsuddin Adz-dzahaby (673-748H).

f.    Thabaqatu Al Huffazh oleh Jalaludin As-Syuyuthi (849-911H).

 

5.   Tingkatan thabaqat

Menurut Ibnu Hajar Al Asqolani Thabaqat para perawi hadits sejak masa shahabat sampai pada akhir periwayatan ada 12 thabaqat yaitu sebagai berikut ;

1. Shahabat dengan berbagai tingkatannya.

2. Tabi’in senior seperti Sa’d bin al-Musayyab.

3. Tabi’in Pertengahanseperti al-Hasan dan Ibn Sirin.

4. Tabi’in Dekat pertengahan seperti Az-Zuhri dan Qatadah.

5. Tabi’in yunior tetapi tidak mendengar dari seorang shahabat Seperti al-A’masy.

6. Hadir bersama Tabi’in yunior tetapi tidak bertemu dengan seorang shahabat Seperti Ibn Juraij.

7. Tabi’ Tabi’in senior Seperti Malik bin Anas dan Sufyan Ats-Tsauri.

8. Tabi’ Tabi’in pertengahan Seperti Ibnu Uyaynah dan Ibnu Ulayyah.

9. Tabi’ Tabi’in yunior seperti Yazid bin Harun, Abu Dawud, Ath-Thayalisi , abdur Razaq dan Asy-Syafi’i.

10. Murid Tabi’ Tabi’in senior yang tidak bertemu dengan Tabi’in Seperti Ahmad bin Hanbal.

11. Murid Tabi’ Tabi’in pertengahan dari mereka Seperti Adz-Dzuhali dan Al-Bukhori.

12. Murid Tabi’ Tabi’in yunior dari mereka Seperti At-Tirmidzi dan di samakan denganya sebagian guru dari Imam enam yang agak terakhir meninggalnya seperti sebagian guru-guru an-Nasa’i.[13]
BAB III

PENUTUP

A.                 KESIMPULAN

Ilmu Rijal Al Hadis adalah suatu cabang ilmu dalam ilmu hadis yang membahas tentang para perawi hadis untuk mengetahui kapasitasnya sebagai perawi hadis.Ilmu ini memiliki objek kajian yang sangat jelas yaitu tentang kisah hidup para periwayat yang meriwayatkan hadis Nabi.
Kisah hidup para perawi menjadi objek pembahasan dalam ilmu ini dikarenakan berbagai factor, diantaranya :
1.      Tidak seluruh Hadis ditulis pada masa Nabi
2.      Terjadinya pemalsuan Hadis
3.      Proses penghimpunan Hadis
Hal ini dikarenakan, dalam hal diatas sangat memerlukan pengetahuan tentang perawi Hadis tersebut untuk menghindari kesalahan maupun kecacatan dalam periwayatan hadis.
Ilmu Rijal al-Hadis ini lahir bersama-sama dengan periwayatan hadis dalam Islam  dan mengambil porsi khusus untuk mempelajari persoalan-persoalan di sekitar sanad.

B.                 SARAN

Penulis sangat menyadari akan kekurangan-kekurangan yang ada pada makalah ini. Baik dari segi ilmunya maupun dari segi penulisannya. Itu semua disebabkan kurangnya referensi yang digunakan dan kurangnya pengalaman penulis. Untuk itu, apabila ada kritik maupun saran dari pembaca yang bersifat membangun sangat penulis harapkan, agar di penulisan berikutnya penulis dapat memperbaikinya.





DAFTAR PUSTAKA

[1] Ash-Shiddieqy, Muhammad Hasbi, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, (Semarang: Pusaka Rizki Putra, 2009), cet. 3, hlm.
[2]Ahmad, Darodji, dkk., Pengantar Ilmu Hadits, (Semarang: Duta Grafika, 1985), hlm. 15.
[3]Zuhri, Muh, Hadisn Nabi Telaah Historis dan Metodologis, hal. 117.
[4]Idri, Studi Hadis, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010), hal. 66-67
[5]Zuhri, Muh, op.cit., hlm. 117.
[6]Ahmad, Darodji, dkk., op. Cit., hlm. 30.
[7]Idri, op.cit., hlm. 67
[8]Ibid, hlm.67-71.
[9]Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, PT Bulan Bintang, Jakarta, 1991, hlm. 258.
[10] Ibid., 153-154.
[11] Muhammad Abdul Ghofir, 2014. ILMU THOBAQAH . Online (Thabaqat Al Ruwah)https://alquranassyifa.wordpress.com/2014/01/02/ilmu-thobaqah-thabaqat-al-ruwah/, diakses tanggal Januari 2, 2014)

 




[1] Ash-Shiddieqy, Muhammad Hasbi, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, (Semarang: Pusaka Rizki Putra, 2009), cet. 3, hlm.
[2] Ahmad, Darodji, dkk., Pengantar Ilmu Hadits, (Semarang: Duta Grafika, 1985), hlm.15.
[3] Zuhri, Muh, Hadisn Nabi Telaah Historis dan Metodologis, hal. 117.
[4] Idri, Studi Hadis, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010), hal. 66-67
[5] Zuhri, Muh, op.cit., hlm. 117.
[6] hmad, Darodji, dkk., op. Cit., hlm. 30.
[7] Idri, op.cit., hlm. 67
[8] Ibid, hlm.67-71.
[9] Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, PT Bulan Bintang, Jakarta, 1991, hlm. 258.
[10] Ibid., 153-154.
[11] Muhammad Abdul Ghofir, 2014. ILMU THOBAQAH . Online (Thabaqat Al Ruwah)https://alquranassyifa.wordpress.com/2014/01/02/ilmu-thobaqah-thabaqat-al-ruwah/, diakses tanggal Januari 2, 2014)
[12] Muhammad Abdul Ghofir, 2014. ILMU THOBAQAH . Online (Thabaqat Al Ruwah)https://alquranassyifa.wordpress.com/2014/01/02/ilmu-thobaqah-thabaqat-al-ruwah/, diakses tanggal Januari 2, 2014)
[13] Muhammad Abdul Ghofir, 2014. ILMU THOBAQAH . Online (Thabaqat Al Ruwah)https://alquranassyifa.wordpress.com/2014/01/02/ilmu-thobaqah-thabaqat-al-ruwah/, diakses tanggal Januari 2, 2014)




0 comments:

Post a Comment

Pengunjung

Search This Blog

Popular Posts