Wednesday, June 14, 2017

MAKALAH : Studi Sistem Etika Islam | Download Makalah Full Footnote dan Daftar Pustaka


File makalah ini tidak kami Upload melaikan hanya sebagai gambaran dan pembelajaranb saja. Terus berpikir dan mulailah berkretifitas.






BAB I

PENDAHULUAN

A.           LATAR BELAKANG

Islam merupakan salah satu agama samawi yang meletakan nilai-nilai kemanusia atau hubungan personal, interpersonal dan masyarakat secara agung dan luhur, tidak ada perbedaan satu sama lain, keadilan, relevansi, kedamaian yang mengikat semua aspek manusia. Karena Islam yang berakar pada kata “salima” dapat diartikan sebagai sebuah kedamaian yang hadir dalam diri manusia dan itu sifatnya fitrah. Kedamaian akan hadir, jika manuia itu sendiri menggunakan dorongan diri (drive) kearah bagaimana memanusiakan manusia dan atau memposisikan dirinya sebagai makhluk ciptaaan Tuhan yang bukan saja unik, tapi juga sempurna, namun jika sebaliknya manusia mengikuti nafsu dan tidak berjalan seiring fitrah, maka janji Tuhan adzab dan kehinaan akan datang.[1]
Fitrah kemanusiaan yang merupakan pemberian Tuhan (Given) memang tidak dapat ditawar, dia hadir sering tiupan ruh dalam janin manusia dan begitu manusia lahir dalam bentuk “manusia” punya mata, telinga, tangan, kaki dan anggota tubuh lainnya sangat tergantung pada wilayah, tempat, lingkungan dimana manusia itu dilahirkan. Anak yang dilahirkan dalam keluarga dan lingkungan muslim sudah barang tentu secara akidah akan mempunyai persepsi ketuhanan (iman) yang sama, begitu pun nasrani dan lain sebagainya. Inilah yang sering dikatakan sebagai sudut lahirnya keberagamanaan seorang manusia yang akan berbeda satu dengan yang lainnya. Dalam wacana studi agama sering dikatakan bahwa fenomena keberagamaan manusia tidak hanya dapat dilihat dari berbagai sudut pandang normativitas melainkan juga dilihat dari historisitas.[2]
Keberagamaan dalam Islam tentu saja harus dipandang secara konfrehenship dan seyogyanya harus diposisikan sebagai sebuah persfektif tanpa menapikan yang lain. Keberagamaan yang berbeda (defernsial) antara satu dengan yang lainnya merupakan salah satu nilai luhur kemanusiaan itu sendiri. Karena Islam itu lahir dengan pondasi keimanan, syariat,  muamalat dan ihsan, Keimanan adalah inti pemahaman manusia tehadap sang pencipta, syariat adalah jalan menuju penghambaan manusia kepada tuhannya, sedangkan muamalat dan Ihsan adalah keutamaan manusia memandang dirinya dan diri orang lain sebagai sebuah hubungan harmonis yang bermuara pada kesalehan sosial.
Keberagamaan manusia yang berbeda inilah yang perlu diangkat sebagai sebuah momentum guna melihat sisi keunikan manusia sebagai ciptaan Tuhan itu sendiri. Maka keberagamaan itu sendiri akan mengarah pada bagaimana kebenaran itu bisa diraih dalam rangka pendekatan diri kepada Tuhan sebagai manifestasi dari “iman”. Dilihat dalam kontek ini adalah bagaimana manusia memposisikan diri selain pemahaman terhadap kebenaran transenden, juga memahamkan dirinya pada kebenaran hubungan antar manusia yang dalam Islam masuk dalam kategori “ihsan”  yang secara harfiah berarti kebaikan dan kebaikan. Dorongan ihsan itu sendiri akan melahirkan subuah prilaku, yaitu moral atau etika.[3]

B.                 RUMUSAN MASALAH

1.        Apakah yang dimaksud dengan etika dalam islam?
2.        Bagaimana studi etika dalam tradisi islam ?
3.        Bagaimana studi etika dalam rekonstruksi islam ?

C.             TUJUAN

1.        Mengetahui sistem etika didalam islam.
2.        Mengetahui bagaimana sistem etika islam dalam tradisi.
3.        Mengetahui bagaimana sistem etika islam dalam rekonstruksi.




Download Langsung Makalah Doc.
atau



BAB II

PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN ETIKA DAN AKHLAK

Dalam tradisi filsafat istilah “etika” lazim difahami  sebagai suatu  teori  ilmu pengetahuan yang mendiskusikan mengenai apa yang  baik  dan  apa  yang  buruk  berkenaan  dengan  perilaku manusia.  Dengan  kata lain, etika merupakan usaha dengan akal budinya untuk menyusun teori  mengenai  penyelenggaraan  hidup yang  baik.  Persolan  etika muncul ketika moralitas seseorang atau suatu masyarakat mulai ditinjau  kembali  secara  kritis. Moralitas   berkenaan   dengan   tingkah  laku  yang  konkrit, sedangkan etika bekerja dalam level  teori.  Nilai-nilai  etis yang   difahami,   diyakini,  dan  berusaha  diwujudkan  dalam kehidupan nyata kadangkala disebut ethos.
Sebagai  cabang  pemikiran  filsafat,  etika  bisa   dibedakan manjadi  dua:  obyektivisme  dan  subyektivisme.  Yang pertama berpandangan bahwa  nilai  kebaikan  suatu  tindakan  bersifat obyektif,  terletak pada substansi tindakan itu sendiri. Faham ini melahirkan  apa  yang  disebut  faham  rasionalisme  dalam etika.  Suatu  tindakan  disebut  baik,  kata faham ini, bukan karena kita senang melakukannya, atau  karena  sejalan  dengan kehendak  masyarakat,  melainkan semata keputusan rasionalisme universal yang mendesak kita untuk berbuat begitu. Tokoh utama pendukung  aliran  ini  ialah  Immanuel  Kant, sedangkan dalam Islam –pada batas tertentu– ialah aliran Muitazilah.[4]
Aliran kedua ialah  subyektifisme,  berpandangan  bahwa  suatu tindakan  disebut  baik  manakala sejalan dengan kehendak atau pertimbangan subyek tertentu. Subyek disini bisa  saja  berupa subyektifisme  kolektif,  yaitu  masyarakat,  atau  bisa  saja subyek Tuhan. Faham subyektifisme etika  ini  terbagi  kedalam beberapa  aliran,  sejak dari etika hedonismenya Thomas Hobbes sampai ke faham tradisionalismenya Asy’ariyah. Menurut  faham  Asy’ariyah,  nilai  kebaikan  suatu   tindakan bukannya  terletak  pada obyektivitas nilainya, melainkan pada ketaatannya pada kehendak Tuhan. Asy’ariyah berpandangan bahwa manusia  itu  bagaikan  ‘anak  kecil’  yang  harus  senantiasa dibimbing oleh wahyu karena tanpa wahyu  manusia  tidak  mampu memahami mana yang baik dan mana yang buruk.[5]
Kata “akhlak” (akhlaq) berasal dari bahasa Ara,, meruakan bentuk jamak dari “khuluq” yang menurut bahasa berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku, atau tabiat. Kata tersebut mengandung segi persesuaian dengan kata “khalq” yang berarti kejadian. Ibnu “Athir menjelaskan bahwa khuluq itu adalah gambaran batin manusia yang sebenarnya (yaitu jiwa dan sifat-sifta batiniah), sedang khalq meruakan gambaran bentuk tunggal dari akhlak, tercantum dalam Al-Qur’an surah Qalam [68]: 4,  yang artinya: “Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada diatas budi pekerti yang agung”
Kata akhlak juga dapat ditemukan dalam hadits yang sangat populer yang diriwayatkan oleh Imam Malik, yang artinya : “Bahwasannya aku  (Muhammad) diutus tidak lain untuk menyempurnakan akhlak mulia.”
Secara terminologis, tedapat beberapa definisi akhlak yang dikemukakan para ahli. Ahmad Amin mendefinisikan akhlak sebaga “kehendak yang dibiasakan:. Imam Al-Ghazali menyebutkan bahwa akhlak adalah “sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan”. Sedang menurut Abdullah Darraz mengemukakan bahhwa akhlak adalah”suatu kekuatan dalam kehendak yang mantap yang  membawa kecenderungan kepada pemilihan ada pihak yang benar (akhak yang baik) atau pihak yang jahat (akhak yang buruk)[6]

B.     SISTEM  ETIKA DALAM ISLAM

Etika merupakan salah satu cabang ilmu filsafat yang membahas tentang tindakan manusia, karenanya etika sering disebut sebagai filsafat moral. Etika dan moral merupakan 2 hal yang beririsan, artinya ketika kita berbicara tentang etika, maka kita pun sedang membahas bagaimana baik buruknya  perilaku seseorang  sesuai dengan norma moral. Agama sebagai salah satu sumber norma yang mendasari perilaku seseorang, mempunyai hubungan yang sangat erat dengan moral.[7]
Kalau  kita  sepakati  bahwa  etika  ialah suatu kajian kritis rasional mengenai yang baik dan yang buruk,  bagaimana  halnya dengan   teori   etika   dalam  Islam.  Sedangkan  telah disebutkan di muka, kita  menemukan  dua  faham,  yaitu  faham rasionalisme   yang   diwakili   oleh   Mu’tazilah  dan  faham tradisionalisme yang diwakili oleh Asy’ariyah. Munculnya perbedaan itu memang  sulit  diingkari  baik  karena pengaruh  Filsafat  Yunani  ke dalam dunia Islam maupun karena narasi ayat-ayat al-Qur’an  sendiri  yang  mendorong  lahirnya perbedaan  penafsiran.  Di  dalam  al-Qur’an pesan etis selalu saja   terselubungi   oleh   isyarat-isyarat   yang   menuntut penafsiran dan perenungan oleh manusia.
Etika Islam memiliki antisipasi jauh ke depan dengan dua  ciri utama.  Pertama,  etika Islam tidak menentang fithrah manusia. Kedua,  etika  Islam  amat  rasionalistik.   Sekedar   sebagai perbandingan  baiklah akan saya kutipkan pendapat Alex Inkeles mengenai sikap-sikap modern. Setelah melakukan kajian terhadap berbagai  teori  dan  definisi  mengenai  modernisasi, Inkeles membuat rangkuman mengenai sikap-sikap modern sabagai berikut, yaitu:  kegandrungan menerima gagasan-gagasan baru dan mencoba metode-metode  baru;  kesediaan  buat   menyatakan   pendapat; kepekaan  pada  waktu  dan  lebih  mementingkan waktu kini dan mendatang ketimbang waktu yang telah  lampau;  rasa  ketepatan waktu  yang  lebih  baik;  keprihatinan yang lebih besar untuk merencanakan organisasi dan efisiensi; kecenderungan memandang dunia  sebagai  suatu  yang bisa dihitung; menghargai kekuatan ilmu dan teknologi; dan  keyakinan  pada  keadilan  yang  bias diratakan.
Rasanya  tidak  perlu  lagi dikemukakan di sini bahwa apa yang dikemukakan Inkeles  dan  diklaim  sebagai  sikap  modern  itu memang  sejalan  dengan etika al-Qur'an. Dalam diskusi tentang hubungan antara  etika  dan  moral,  problem  yang  seringkali muncul  ialah  bagaimana melihat peristiwa moral yang bersifat partikular dan individual dalam perspektif  teori  etika  yang bersifat rasional dan universal. Islam  yang  mempunyai  klaim  universal  ketika  dihayati dan direalisasikan  cenderung  menjadi  peristiwa  partikular  dan individual.  Pendeknya, tindakan moral adalah tindakan konkrit yang bersifat pribadi dan subyektif. Tindakan moral  ini  akan menjadi  pelik ketika dalam waktu dan subyek yang sama terjadi konflik nilai. Misalnya  saja,  nilai  solidaritas  kadangkala berbenturan  dengan  nilai  keadilan dan kejujuran. Di sinilah letaknya kebebasan, kesadaran moral serta rasionalitas menjadi amat  penting.  Yakni  bagaimana  mempertanggungjawabkan suatu tindakan subyektif dalam kerangka nilai-nilai etika  obyektif, tindakan  mikro  dalam kerangka etika makro, tindakan lahiriah dalam acuan sikap batin.
Dalam persfektif psikologi, manusia terdiri dari tiga unsur penting yaitu, Id, Ego, dan Superego, sedangkan dalam pandangan Islam ketiganya sering dipadankan dengan nafs amarah, nafs lawwamah, dan nafs mutmaninah. Ketiganya merupakan unsur hidup yang ada dalam manusia yang akn tumbuh berkembang seiring perjalanan dan pengalaman hidup manusia. Maka untuk menjaga agar ketiganya berjalan dengan baik, diperlukan edukasi yang diberikan orang tua kepada anaknya dalam bentuk pemberian muatan etika yang menjadi ujung tombak dari ketiga unsur di atas. [8]Diantara pemberiaan edukasi etika kepada anak diarahkan kepada beberapa hal di bawah ini:
1.      Pembiasaan kepada hal-hal yang baik dengan contoh dan perilaku orang tua dan tidak banyak menggunakan bahasa verbal dalam mecari kebenaran dan sudah barang tentu sangat tergantung pada sisi historisitas seseorang dalam hidup dan kehidupan.
2.      Bila anak sudah mampu memahami dengan suatu kebiasaan, maka dapat diberikan arahan lanjut dengan memberikan penjelasan apa dan mengapa dan yang berkaitan dengan hokum kausalitas (sebab akibat) Pada masa dewasa, anak juga tidak dilepas begtu saja, peran orang tua sebagai pengingat dan pengarah tidak harus putus, tanpa harus ada kesan otoriter, bahkan mengajak anak untuk diskusi tentang pemahaman keberagamaan.
3.      Pada masa dewasa, anak juga tidak dilepas begitu saja, peran orang tua sebagai pengingat dan pengarah tidak harus putus, tanpa harus ada kesan otoriter, bahkan mengajak anak untuk diskusi tentang pemahaman keberagamaan.Pembiasaan kepada hal-hal yang baik dengan contoh dan perilaku orang tua dan tidak banyak menggunakan bahasa verbal dalam menyampaikan baik dan buruk sesuatu, manfaat dan mudharatnya, sesat dan tidaknya.

C.    STUDI ETIKA DALAM TRADISI ISLAM

Etika berasal dari istilah Yunani ethos yang mempunyai arti adat-istiadat atau kebiasaan yang baik. Adat istiadat adalah kumpulan tata kelakuan yang paling tinggi kedudukannya karena bersifat kekal dan terintegrasi sangat kuat terhadap masyarakat yang memilikinya.  Bertolak dari pengertian tersebut, etika berkembang menjadi studi tentang kebiasaan manusia berdasarkan kesepakatan menurut ruang dan waktu yang berbeda, yang menggambarkan perangai manusia dalam kehidupan manusia pada umumnya. Berdasarkan perkembangan arti inilah kemudian dikenal  adanya etika perangai.
Etika perangai adalah adat istiadat atau kebiasaan yang menggambarkan perangai manusia dalam kehidupan bermasyarakat di derah-daerah tertentu, pada waktu tertentu pula. Etika perangai tersebut diakui dan berlaku karena disepakati masyarakat berdasarkan hasil penilaian perilaku.
Contoh etika perangai: berbusana adat, memakai baju batik (batik adalah ciri khas Indonesia),  pergaulan muda mudi, perkawinan semenda, upacara adat, dll
Ciri-ciri adat sebagai sistem etika di masyarakat Indonesia adalah:
·         Berisi hal-hal yang harus dilakukan
·         Merupakan urusan komunitas atau kelompok
·         Peraturan-peraturan yang ada mencakup seluruh kehidupan
·         Sumber tidak pribadi
·         Jika sesuai dianggap wajar atau baik
·         Diturunkan dari generasi ke generasi
·         Dianggap memberi berkat.
·         Adanya sanksi-sanksi/reaksi masyarakat.
Walaupun etika yang bersumber dari adat ini tidak diberikan sanksi tertulis, tetapi sanksinya lebih berat karena pelanggaran etika dapat membawa perasaan tidak enak, tidak dipercaya, dikucilkan, disindir, tidak disenangi dalam lingkungan tersebut, merasa kualat, dll, dimana perasaan seperti ini kadang terasa lebih keras dan menyiksa dibanding hukuman lainnya. Inilah yang disebut sebagai sanksi sosial.[9]

D.    REKONSTRUKSI ETKA ISLAM

Islam di tinjau dari berbagai pendekatan merupakan agama yang paling modern dan sangat cocok dengan abad kekinian. Wajah dinamisasinya telah tercantum dalam al-qur’an dengan ungkapan Islam rahmatallil ‘alamin, dimana Islam merupakan rahmat bagi seluruh alam, seluruh muslim bahkan seluruh umat manusia. Ini di karnakan nilai-nilai keuniversalan terkandung didalam teks suci yang memuat prinsif-prinsif yang bersifat transenden, fleksible dan dinamis serta mengakomodir segala keberagaman di jagat raya. Inlah yang di maksud Islam rahmat bagi sekalian alam.[10]
 Namun, jalan yang di paraktekkan umat hari ini memberi kesan bahwa Islam seolah-olah agama paling konservatif dan fundamentalis, sehingga fanatisme diletakkan dengan amat mudah dalam Islam dan muslim. Melihat peraktek beragama umat Islam akhir-akhir ini yang cendrung kekanak-kanakan seperti sikap suka memfonis amal orang lain mengadili bahkan mengkafirkan terhadap muslim lainnya. Hal ini hendaknya membuat kita duduk sejenak dan merenungi dengan serius: adakah yang salah dengan Islam, yang katanya agama sangat manusiawi, di sini kita mengajak segenap muslim berkaca mendalam pada semua persoalan ini.
.Menilai islam sebagai agama yang benar adalah kemestian, pernyataan ini bukanlah atas dasar sakralisasi belaka akan tetapi berdasarkan telaah dari berbagai aspek kehidupan teutama aspek historis yang berdasarka sebuah kesadaran sebagai manusia yang di adakan( kausalitas) yang realita ajarannya memang tidak terbantahkan oleh jiwa yang cendrung pada kebenaran (hanif), yang ajarannya itu pada tatanan prinsif mengajarkan kedamaian, ketenangan, kesamaan keadilan serta kemerdekaan. Prinsif yang ada setidaknya menjadi standarisasi dalam pelaksanaan dan penilaian khususnya di wilayah profan, sedangkan wilayah sakral umumnya menjadi otoritas Tuhan.
 Al-qur’an sebenarnya meninggikan: walaqad karramna bani Adam,( dan sesungguhnya telah kami muliakan anak Adam)( Q.S,17:70). Pada masa pra Islam, tidak ada prihal tentang penghormatan martabat anak Adam. Terlihat konsep anak adam sangat penting ( dalam Asghar aili Engineer,2004:35) disini tidak memandang kasta, keturunan atau aliran akan tetapi ia memotret manusia secara umum. Sebenarnya inilah dasar yang paling kuat dari demokrasi modern dalam etika kehidupan.
 Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu ialah oaring yang paling bertakwa, sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal. (Q.S,49:13)
 Inilah yang oleh filsuf Islam, Ibnu Miskawaih di sebut al-Hikmah al-khalidah yang menjadi judul sebuah bukunya yang kemudiaan di terjemahkan kedalam bahasa Latin, menjadi ’’Sophia perennis’’. Dan yang disebut “kebijakan abadi” itu tidak lain adalah fitrah Allah untuk manusia.
Jelas sudah bahwa Islam telah mengedepankan prinsif-prinsif untuk memberi ruang kedamaian dalam keberagaman, akan tetapi tidak jarang pesan-pesan Tuhan yang terdapat dalam al-Qur’an di bawa keruang yang sempit dan apatis oleh oknum agama tertentu, sebagai upaya mendiskriditkan kebenaran yang orang lain pahami. Padahal ketika mereka berpandangan demikian, secara jelas bahwa mereka telah melakukan kontruksi terhadap hakikat pesan-pesan Tuhan yang di selaraskan dengan pemahaman mereka. Maka, ketika itulah agama telah di bawa kewilayah ideologi, sedangkan masuknya agama kewilayah ideology tidak lagi menjadikan agama sebagai identitas yang murni, akan tetapi lebih cendrung pada kepentingan dari sebuah ideology. Maka, timbullah watak isme-isme yang berujung pada pembenaran komunal.[11]

BAB III

PENUTUP

A.                KESIMPULAN
1.             Secara garis besar, etika  bisa   dibedakan manjadi  dua:  obyektivisme  dan  subyektivisme. Yang pertama berpandangan bahwa  nilai  kebaikan  suatu  tindakan  bersifat obyektif,  terletak pada substansi tindakan itu sendiri. Faham ini melahirkan  apa  yang  disebut  faham  rasionalisme  dalam etika.  Suatu  tindakan  disebut  baik,  kata faham ini, bukan karena kita senang melakukannya, atau  karena  sejalan  dengan kehendak  masyarakat,  melainkan semata keputusan rasionalisme universal yang mendesak kita untuk berbuat begitu.
Aliran kedua ialah  subyektifisme,  berpandangan  bahwa  suatu tindakan  disebut  baik  manakala sejalan dengan kehendak atau pertimbangan subyek tertentu. Subyek disini bisa  saja  berupa subyektifisme  kolektif,  yaitu  masyarakat,  atau  bisa  saja subyek Tuhan.
2.             Islam telah mengedepankan prinsif-prinsif untuk memberi ruang kedamaian dalam keberagaman, akan tetapi tidak jarang pesan-pesan Tuhan yang terdapat dalam al-Qur’an di bawa keruang yang sempit dan apatis oleh oknum agama tertentu, sebagai upaya mendiskriditkan kebenaran yang orang lain pahami. Padahal ketika mereka berpandangan demikian, secara jelas bahwa mereka telah melakukan kontruksi terhadap hakikat pesan-pesan Tuhan yang di selaraskan dengan pemahaman mereka

B.                 SARAN
Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca dan penulis.Kami selaku penyusun makalah tersebut mengharapkan saran, dan ide yang bisa membangun, dan melengkapi makalah tersebut.Dan jika ada kesalahan mohon dimaafkan.




DAFTAR PUSTAKA

NN, 2008. KONSEP ETIKA DALAM PANDANGAN  ISLAM, Online : https://pascasarjanauin07.wordpress.com/2008/02/09/konsep-etika-dalam-pandangan-islam/ : Diakses 07 on February 9, 2008.
Amin Abdullah, STUDI AGAMA NORMATIVITAS DAN HISTORITAS, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2002) hal. V
NN, 2008. KONSEP ETIKA DALAM PANDANGAN  ISLAM, Online : https://pascasarjanauin07.wordpress.com/2008/02/09/konsep-etika-dalam-pandangan-islam/ : Diakses 07 on February 9, 2008.
Qomarudin Hidayat, ETIKA DALAM KITAB SUCI DAN RELEVANSINYA DALAM KEHIDUPAN MODERN STUDI KASUS DI ,,,TURKI, (Jakarta : Paramadina),
Qomarudin Hidayat, ETIKA DALAM KITAB SUCI DAN RELEVANSINYA DALAM KEHIDUPAN MODERN STUDI KASUS DI TURKI, (Jakarta : Paramadina),
Didiek Ahmadsupadie, 2011. PENGANTAR  STUD ISLAM (Jakarta : Rajawali Pers) hal. 216 – 217
[1] Endang Sri Budi Herawati, 2013. ETIKA DALAM AGAMA DAN ADAT ISTIADAT, Online (http://irasaffaghira.blogspot.co.id/2013/10/etika-dalam-agama-dan-adat-istiadat.html : diakses pada Rabu, 02 Oktober 2013)
Ahmad Mudlor, ETIKA DALAM ISLAM, (Surabaya : Al-Ikhlas), hal.  155
Endang Sri Budi Herawati, 2013. ETIKA DALAM AGAMA DAN ADAT.
Tamimi Ahmad. Rekonstruksi Etika Beragama Online, (https://armadhany.wordpress.com/rekonstruksi-etika-beragama/)




[1]  NN, 2008. KONSEP ETIKA DALAM PANDANGAN  ISLAM, Online : https://pascasarjanauin07.wordpress.com/2008/02/09/konsep-etika-dalam-pandangan-islam/ : Diakses 07 on February 9, 2008.
[2] Amin Abdullah, STUDI AGAMA NORMATIVITAS DAN HISTORITAS, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2002) hal. V
[3] NN, 2008. KONSEP ETIKA DALAM PANDANGAN  ISLAM, Online : https://pascasarjanauin07.wordpress.com/2008/02/09/konsep-etika-dalam-pandangan-islam/ : Diakses 07 on February 9, 2008.
[4]  Qomarudin Hidayat, ETIKA DALAM KITAB SUCI DAN RELEVANSINYA DALAM KEHIDUPAN MODERN STUDI KASUS DI ,,,TURKI, (Jakarta : Paramadina),
[5] Qomarudin Hidayat, ETIKA DALAM KITAB SUCI DAN RELEVANSINYA DALAM KEHIDUPAN MODERN STUDI KASUS DI TURKI, (Jakarta : Paramadina),
[6]  Didiek Ahmadsupadie, 2011. PENGANTAR  STUD ISLAM (Jakarta : Rajawali Pers) hal. 216 - 217
[7]   Endang Sri Budi Herawati, 2013. ETIKA DALAM AGAMA DAN ADAT ISTIADAT, Online (http://irasaffaghira.blogspot.co.id/2013/10/etika-dalam-agama-dan-adat-istiadat.html : diakses pada Rabu, 02 Oktober 2013)
[8] Ahmad Mudlor, ETIKA DALAM ISLAM, (Surabaya : Al-Ikhlas), hal.  155
[9] Endang Sri Budi Herawati, 2013. ETIKA DALAM AGAMA DAN ADAT ISTIADAT, Online (http://irasaffaghira.blogspot.co.id/2013/10/etika-dalam-agama-dan-adat-istiadat.html : diakses pada Rabu, 02 Oktober 2013)
[10] Tamimi Ahmad. Rekonstruksi Etika Beragama Online, (https://armadhany.wordpress.com/rekonstruksi-etika-beragama/)
[11] Tamimi Ahmad. Rekonstruksi Etika Beragama Online, (https://armadhany.wordpress.com/rekonstruksi-etika-beragama/)



Download Langsung Makalah Doc.
atau




0 comments:

Post a Comment

Pengunjung

Search This Blog

Popular Posts